Sabtu, 12 Januari 2013

Resensi Novel "Jalan Tak Ada Ujung"


Nama         :Putri Larasati
Kelas          :XI-A1
No. Absen   :37

Resensi Novel

NOVEL “JALAN TAK ADA UJUNG”
·         Pengarang          :  Mochtar Lubis
·         Penerbit             :  Yayasan Obor Indonesia
·         Tebal buku         :  vi + 167 hlm ; 11 x 17 cm.
·         Keterangan        : 
-          Cetakan pertama tahun 1952.
-          Cetakan ketiga sampai dengan kedelapan diterbitkan oleh P.T. Dunia Pustaka Jaya.
-          Cetakan ke-1: Yayasan Obor Indonesia, April 1992
-          Cetakan ke-4: Januari 2001


Novel ini menceritakan seorang guru yang bernama Isa yang mengajar di sebuah sekolah di Tanah Abang. Ia hidup di kala revolusi di saat para pemuda sedang gencar-gencarnya melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia.
Dalam Novel ini Guru Isa di gambarkan sebagai seseorang yang cinta damai, dan tidak menyukai kekerasan. Dengan terpaksa karena takut ia di  tuduh sebagai mata-mata musuh. Ia mengikuti sebuah organisasi rahasia di kampungnya, dan ia terpilih menjadi kurir atau pengantar senjata dan surat-surat di dalam kota Jakarta.
Ia mempunyai seorang Istri bernama Fatimah. Selama pernikahannya ia tidak di karuniai seorang anak, dikarenakan Guru Isa yang mengalamai Impotensi. Akhirnya atas permintaan istrinya, mereka mengangkat seorang anak bernama Salim. Kehidupan mereka tidak sebahagia dulu setelah menikah. Isa tidak pernah melihat lagi sinar mata Fatimah seperti dahulu sebelum mereka menikah. Keadaan ekonominya juga buruk karena penghasilan Guru Isa sangat tidak menentu. Sehingga Fatimah hatus mengutang kemana-mana, sampai suatu saat keadaannya benar-benar terdesak, hingga akhirnya Guru Isa mencuri buku tulis yang ada di sekolah.
Karena kesamaan hoby bermain biolanya. Guru Isa menjadi dekat dengan Hazil – seorang pemuda yang ia kenal lewat organisasi pemberontakan di kampungnya. Hazil adalah anak dari Mr. Kamaruddin, pensiunan Kepala Landraad.
Bersama Hazil, dan seorang supir bernama Abdullah, mereka pergi menyelundupkan senjata ke Karawang menggunakan mobil Tuan Hamidi. Di Asam Reges, mereka bertemu dengan Rakhmat, dengan Ontong dan teman-temannya. Dari Ontong ia di ceritakan bahwa beberapa waktu yang lalu, mereka habis telah membunuh 2 orang perempuan Tionghoa yang dianggap sebagai mata-mata musuh. Guru Isa menjadi takut bercampur ngeri.
Pada suatu hari Guru Isa menderita penyakit malaria. Ketika itu Hazil datang menjenguk. Selesainya ia membantu Fatimah menyalakan api tungku. Dan semenjak itu hubungan gelap terjadi antara Hazil dan Fatimah.
Pernah ketika Guru Isa sedang tidur, ia menemukan sebuah pipa milik Hazil di bawah tempat tidur. Dari situlah ia mengetahui bahwa istrinya selingkuh, namun ia lebih memilih untuk diam.
Dengan pengorbanan jiwa yang besar Guru Isa menyetujui rencana Hazil dan Rakhmat untuk melempar granat tangan ke sebuah bioskop Rex. Namun, seminggu kemudian ia membaca sebuah koran yang berisi bahwa salah seorang pelaku pelempar granat tangan tertangkap. Jelas berita itu membuat Guru Isa takut setengah mati. Ia belum mengetahui siapa yang tertangkap. Rakhmat atau Hazil?
Dan beberapa hari setelahnya Guru Isa ditangkap oleh polisi. Di sana ia di interogasi. Dalam tahanan ia mengetahui bahwa Hazillah yang tertangkap. Hazil sangat menyesal dan hampir mati dalam ketakutannya.dan guru Isa tetap tegar dan berhasil melewati masa-msa ketakutan itu.
Novel ini sangat pantas untuk di baca, dengan tema perjuangan seorang guru di masa revolusi. Ada beberapa kelebihan dalam novel ini terutama dalam setting yang sangat kuat. Dengan perincian situasi yang sangat mendetail. Selain itu penokohannya juga terlihat jelas. Hanya kekurangannya adalah pemilihan gaya bahasa yang sederhana. Mochtar Lubis menggunakan sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga dengan alur maju. Amanat dari novel ini adalah untuk tidak menjadi orang yang penakut, berjuanglah demi kebenaran asal harus berasaskan peri kemanusiaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar